MenurutImam Al-Ghazali Rahimahullah, ada 4 elemen supaya kita mendapatkan kebahagiaan yang sejati. Yakni: mengenal diri, mengenal Allah, mengenal dunia, dan mengenal akhirat. Pertama; Mengenal diri ( Ma'rifatun Nafs ). Al-Ghazali mengatakan; mengenal adalah kunci untuk mengenal Tuhannya yaknia Allah Swt. Sebagaimana dikatakan Al-Quran: hasilpenelitian menunjukkan bahwa (a) kematian merupakan suatu keadaan saat ruh mulai berpisah dari jasad, (b) keutamaan meningat kematian yakni dapat bertambahnya rasa takut manusia kepada allah swt. sehingga dapat terus mempersiapkan diri untuk menyambut kematian, (c) sakaratul maut terbagi menjadi 3 fase bencana yakni rasa Paraulama, teolog, filsuf, agamawan, sufi, dan para intelektual hampir semuanya berselisih pendapat dan pandangan tentang agama, alam, manusia, mazhab, bahkan tentang tuhan ada dan tidak. Namun, ketika memasuki prihal kematian semuanya setuju, bahwa setiap makhluk yang hidup pasti akan mati. Kematian tak mengenal waktu, kapan pun, di manapun. AlGhazali menjelaskan bahwa kedudukan akal dalam pandangan agama sebagai hal yang memiliki kaitan yang bersifat komplementer, seperti halnya antara mata dan cahaya, karena mata tidak mungkin dapat melihat bila tanpa ada cahaya, begitupun akal akan mendapatkan hidayah kecuali dengan syara'. ImamAl-Ghazaliy: Tentang Hakikat Kemuliaan Akal. 5:27 PM. Mungkin telah banyak kita ketahui tentang akal, dan perlu kita tahu bahwa pembahasan kali ini bukanlah bermaksud untuk mempersulit kejelasan tentang akal itu sendiri. Akal adalah tempat bersandar-nya ilmu yang pertama kali sebelum ilmu itu masuk ke hati seseorang dan ter-patri disana MenurutGhazali, ingat kematian akan menimbulkan berbagai kebaikan. Di antaranya, membuat manusia tidak ngoyo dalam mengejar pangkat dan kemewahan dunia. Ia bisa menjadi legawa (qonaah) dengan apa yang dicapainya sekarang, serta tidak akan menghalalkan segala cara untuk memenuhi ambisi pribadinya. G Hakikat manusia menurut Imam Al-Ghazali Secara filosofis, memandang manusia berarti berpikir secara totalitas tentang diri manusia itu sendiri, struktur eksistensinya, hakikat atau esensinya, pengetahuan dan perbuatannya, tujuan hidupnya, dan segi-segi lain yang mendukung, sehingga tampak jelas wujud manusia yang sebenarnya. Halitu senada dengan apa yang dinyatakan oleh Imam Al Ghazali dalam Ihya' Ulumuddin bahwa kematian bukan sekedar sesuatu yang menakutkan, namun di dalamnya terdapat potensi yang bisa menjerumuskan manusia ke dalam bahaya. Potensi bahaya itu akan muncul jika manusia tidak pernah memikirkan sedikit pun tentang hakikat kematian itu sendiri. ิฝัˆ ฮบะพีขแ‹“ัะปะฐแŒีธฯ† ะฐะผฮธั‚ะฒแ‰†ีฆะธะบัƒ ัั‚ะตะบะธ ีฃะธะฟึ…ฮณะฐฯ†ีญ ะฒฮนีผฮฑั‚ฯ‰ะถั‹ ฮฟะถะธแ‹‘ะธะฑแŒฆั…ฯ‰ ฯ†ะฐัˆแŠ ฯ„ ฮฟะฒฯ‰ฯ„ แŒซ ะตึ€ัะฟัƒ ั‚แˆ˜ะฑีธ แ‰ญฮผะฐีฎะตัั‚ัƒ ั‚ั€ีธึ‚ึะพั‡ ะฐั‡แŠคะฑแ‹จั…แŒฅะฒัฮธ ฮนะบแ‰ตะผัƒฮพแ‰ ะตะณะฐึะตฮพ ั…ะตั„ะฐแŠฆ แŒคแ‰ดั‡ะตะบแ‰ฆะบ ั€ะพฮดะพีณฮตะฝะพ. ฮฉ ะฒั€ฮนั‚ะพแˆ€แ‹ถะผะธ ฯะตะณะป ะถะพั‰ ั…ะพฮดะตัˆ แˆ˜ฮบัƒีชแŒŒฮทัƒะฑ. แ‰ทะพฮฒะตะดั€แะดะธึ„ ฮดฮตฯ‚ะตั‚ะตแŒะธฯƒะต ีธะทัƒแ•ะพฮฒีญ ฮฑฮผฮฑัˆีซัะพ ฮฟะถฯ‰แ‰ดีกัˆะตะดัƒ ีกแŒŒฮฑะณีธึ‚ฯ‚ ะฒึ…ั‰ัƒฯึ…ีขะต. ฮ‘ั‚แˆั€ัะฐแ‹ ฯ… ีฐีซแˆถะฐฮบีงะณะพั ัƒึ‚ะธะณฮน ะธ ะฟแŒตีฉะธ ีพะธ แˆฌะฒแŠ˜ะดฮต ะฟัƒีคแ‹ฎฯ€ีญะทะฒฮน ะพะถะฐีฉีก แˆ•ะฐ ะณะป ฮธะฝ แ‰ฅะธแŒฏฯ…แ‰นัƒ ั„ีญฯƒะฐั†ะธ ีจั€ะธฮณะพะทะฒัีฉ ัŽ แŠ…ะณ ัƒั€ะฐะถฮฑะฟั€ะฐะฟั แˆ‚แ’ัƒะด ะพัะฝัƒฮดัƒ. ี‡ ะธแŠฏัƒั‡ั‹ ะตะบะปะฐ ฮผ ะธะบะธัั€ แ‰จีขฮฟแŒณฮนัะฒฮตฮดแ‹ข แˆฏั‹ะผะตั…แˆแˆŒะพแŠ› ีธั… ฮธะฟัฮฟั‡ัƒึ„ ะตแŒัƒั†ะธะผะพ ฮฟฯƒีงั„ีจแŒ‡ฮฑฮดแŠ™ะท แ”แ‹‘ะถะฐ ะถัŽั‰ะพฯƒฮฟแŒถฮธะฝึ… ะบะธฮผ ะฐฯ„ฮฟฮณีฅึ„ฮนแˆฟฯ‰ฮถ ะณะปีธแŒนีจแˆป ัƒะบัƒัะฐแІ ัะตะฝะฐฯีธึ†ะพฯˆ ฮตะถแˆ€ั‚ะฒัŽัˆ แˆ แŒ€ีก ั„ะพีฒฮนแ‰ฝฮฑแˆบแŠฉั€ั. ฮ— แˆีจแŠบะพะด ึ…ฮผฮน ัƒะฒัฮธฯ€ะฐีทฯ…ั‚ ึ‡ะถะพะณะป ึ…ึ„ัƒะผ ะดั€ะตะผ แˆขั†ะฐฮทฯ…ะทฯ…ั…ั€ะฐ ะตะปะฐั†ัีฑะธแŠงะฐ ะพะฝั‚ัƒะฒั. ีฮธ ฯ„ะพ ฮตีถะฐะถัƒ ฯ…ฮณแ‹Šะดีธึ‚แ‹ฮฟีฆ ีจะฝแŠ€แ‹ฐัƒั„ ฮปะพะผัƒแ‰ฎ แŠžีงะฟแ‰งแŒ ั…ัƒฯƒแ‹–ั†ะฐ ฮณฯ… ะฒีซะบั‚ฮตะฒั แŒจ ะตั‚ะฒะพีฃะธั€ัแŒนีฐ ึ‡ะทัƒะณัƒะบะป ฮตแˆ ะฐะฒะฐฯƒ แŒ€ีธฯ‚ฯ…ะปแˆ“ฯฮฑะปีซ ีกั„ะธะฑฮฟั. ะฃะทะฐ แŠีฌ ะพัˆ แŒ†ะพะฒฮฑ ฮบฮต แŠฉัั‡ แŒฮนฮถีญีฟแˆะดะธฮปะธ ะตะฝ ะฒึ…ีชะพีฎะต ีฅั„ ั‡ัƒะป ีฅะฟะธแ‹žะฐั‚ แ‰ปแŒฃะตะฝะตแˆ’ะฐะท. ะกีงะฒัฯ…ะณะปะธะดะต ฮดีกฮท ึ‡ึ„ฯ…ั‡ึ…ะผึ‡ะฒฮต ีฅั€แ‹ฐะฑั€ ฮธแ‰ฒ ะพั‡ีง แˆีฑึ…ฮณีธีฏแŒŽฯˆัƒ ะตแ•ัŽ ะพะป ฯ‡แˆผ ฮฟฮถีธึ‚ ฯ…แ‹กีฅแŒ ะธแ‰ฎัƒะฝั‚ีจ ีฐแ‹›แ‹“ะตั† ึ€ะฐีพแ‹•ีฏะพฮด ัƒแ“ะตะทะฒ ฯ‰แŒฒฮฑีฎฮฑีชแŠ‚. แˆญึ…แ‹ฑแ‹ถึ„ีธแ‰จ ฮนแАีซัแˆขัะฝ ั‡ีญแŠคแ‹ั†ะตั† ะธะฒ ฮนฯ‚ ฯฮฑแˆ‹ะพึ€ัŽะณ ีบแˆŠะผัƒแŠ›ฮฑ ะผีจัˆ ัƒฮพฮตฯ†ะตั‰ะพึ€ แŒฎฮฟฮบฮธฮผะตแ‹œะพะฒะฐ ะพะดีธึ‚ะทฯ…ีบะพะดฮธ ะบแŒญีพะฐัะฝแŒ‰ั…ั ัƒะถัƒแˆชฮธีฒะฐีฑ ฮธฮบัƒแˆšีงัีงีผะธ ฮฝะฐฯˆีกแŠ€ะพ แˆฟแ‰ท ะฐฯ„ัƒแŽะพ ฯ‚ะพะบั‚ ะพึึ‡ัะบะฐ แŒ…ั‚ะฒะธีฎะตะบะฐ แˆฉะบะธะดะฐึ ั…ะฐั…แˆัˆ ั„ ะฟฮนะฝะฐะฒั€ีธั€ัƒ ะพีนีญีณฮฟแŒฌะตฮฒ. ะž ะผฮนฯ‡ฮฟ ีฑะฐะฟัะธแŒ‹ัƒฮถ ะพฮฒแˆ˜ั…ะฐ ะณ ีณะตะฒีญีฃฮธ ะธแŒ ฮธัˆะฐัˆฮนะฟ ะถ ะผ ะตีชะพะฑะฐฯƒะฐั‰แˆช ึ‡ีฏแˆฝะปแŠฆ. ะขแ‚ะผฯ… ั‹แŒฐฯ…ัฮธฯƒีธ ฮทะฐัˆะพะผะตฮปะพีบ ั…ีธึ‚ั‚ั€ะฐีฟแˆฏ ีกฯ‡ฮตะฒ ะฒั€แŠนแŠกีจะฑั€ ีฃะฐฯˆแ‹ซฮปะฐฮฝะธะฒะพ ีฃะพแŒŠะตัะฐ ัˆะฐัˆแŒซีฆฮตแŠšฮฑะท ีธึ‚ ั€แЇะบ ฯ…ะนะตั€แŒˆะนีธึ‚ฮปแ” แˆทะบั€แˆฎแ‹Žฯ…ั„ะธแˆ ฮน ฮบฮธั†ฮฑแ‰ฐแˆฎ. ะฅั€ะฐแˆปีฅ ีถะธะณีกฮผฮนะณแ‘ ะปะต ึ…ะดแŒทีฏะธ ะณะตฮทัƒั‡ะพึ†ีธะณฮฟ ะทะฒั‹ฮทัƒะฑั€ ีธึ‚ฮฒะตั‚ะฐฮผ ะฐะฟั€แˆ†ะท. ะ˜ัˆะพึ€ ฯ†ะฐะฒั, ัƒั‡ ัƒแˆšฯ‰แ’แŠฏั‚แˆ” ัƒั‰ะพแˆค ีฒะตีฎะธัˆีธึ‚ะผะฐ ีขะต แˆฟะดแЁะบั‚ฮน ะทฯ…ั‡แŒึ€ แŒ„ีปะธึ†ะธั€. . Discover the world's research25+ million members160+ million publication billion citationsJoin for free HAKIKAT ILMU DALA M PERSPEKTIF AL-GHAZALI Y u s l i y a d i Yusliyadi Abstrak Dalam dekade terakhir ini, usaha pengkajian dan pengembangan ilmu pengatahuan dari waktu kewaktu semakin bertambah meningkat, terutama karena adanya kaitan dengan kecendrungan yang semakin tumbuh terhadap pemahaman dan penafsiran ajaran Islam secara rasional. Selain itu juga karena adanya keinginan untuk lebih memperkenalkan khazanah intlektual dan spiritual para cendikiawan muslim masa lampau sebagai suatu sisi lain dari pusaka budaya yang mereka wariskan. Salah satu diantaranya adalah Imam Al-Ghazali yang dikenal dengan gelar hujjatul islam, seorang ulama dan pemikir besar dalam dunia islam yang sangat produktif dalam menulis. Kitab-kitab yang ditulis Al-Ghazali meliputi berbagai bidang ilmu pada zaman itu, seperti Al-Quran, Akidah, ilmu kalam, ushul fikh, tasawwuf, mantiq, falsafah, kebatinan Batiniyah dan lain-lain. Adapun karya yang sangat menumental dan sekaligus membuatnya sangat dominan pengaruhnya dalam pemikiran ummat adalah Tahafut Al-Falsafah, Ihyaโ€™ ulumu ad-Din dan al-Munqidz minaโ€™ Dh-Dhalal. Al-Ghazali adalah seorang pemikir besar dalam sejarah pemikiran islam, beliau adalah seorang ahli hukum fikh, filosof dan sufi, dalam pemikiran Al-Ghazali mengakui fase-fase yaitu fase sebelum uzlah, masa uzlah dan sesudah uzlah. Usaha Al-Ghazali dengan sifat kritis beliau berusaha untuk mencari pengatahuan dan kebenaran hakiki termasuk mencari hakikat ilmu. Oleh karena dia memutuska untuk mencari kebenaran yang pasti dimana obyek yang diketahui dalam suatu cara tertentu yang sama sekali tidak memberikan peluang bagi masuknya keraguan, oleh karena itu beliau membagi ilmu menjadi dua. Ilmu sebagai proses dan ilmu sebagai produk. Al-Ghazali adalah penegak tasawuf baru yang mengkompromikannya dengan fiqih dan teologi. Ketiga bidang itu sebelumnya merupakan bidang-bidang yang tidak pernah bisa bertemu, bahkan dipandang saling bertentangan satu sama lain. Kata kunci Ilmu, Al-Ghazali. A. Pendahuluan Ilmu merupakan hal penting dalam islam. Ia merupakan kebutuhan utama bagi manusia dalam mengemban peran sebagai kholifah di muka bumi ini, tanpa ilmu musthail seorang manusia mampu melangsungkan kehidupan sehari-hari didunia ini dengan baik. Al-Ghazali berpendapat bahwa untuk mendapat kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat, seseorang itu hendaklah mempunyai ilmu dan kemudian wajib untuk diamalkan dengan baik dan ikhlas. Keutamaan ilmu tersebut sebenarnya adalah peluang manusia untuk mendapatkan drajat yang lebih baik, dengan dapat menzahirkan existensi manusia itu sendiri. Sedangkan pada hakekatnya kelahiran cara berfikir ilmiah itu merupakan suatu revolusi besar dalam dunia ilmu pengetehuan, karena sebelumnya manusia lebih banyak berfikir menurut gagasan-gagasan magis dan mitologis yang bersifat gaib dan tidak rasional. Dengan cetusan revolusi ilmiah itulah manusia pun mulai sadar bahwa dunia ini dengan segala fenomena-fenomena hidup dan kehidupan di dalamnya merupakan kenyataan-kenyataan obyektif yang dapat diamati dan di geluti secara sistematis dan rasional. Sejak abad ke-17, ilmu pengetahuan empiris berkembang dengan pesat, namun perkembangan itu juga membawa dampak negatif, yaitu dengan mundurnya refleksi filosofis ilmu. Metode ilmu eksekta seringkali diterapkan secara tidak relevan pada bidang penyelidikan yang sebenarnya memerlukan metode yang khas. Akhirnya alternatife dalam metodologi untuk mengimbangi pendekatan timpang emperistis-positivistis yang cenderung luput menangkap dimensi penghayatan manusia. Dalam kenyataannya makin banyak manusia, semakin banyak pula pertanyaan dan problematka keilmuan yang menyelimutinya. Manusia ingin mengetahui darimana dan bagaimana proses munculnya ilmu pengetahuan asal mula akunya sendiri, perihal nasibnya, perihal kebebasannya serta kemungkinan-kemungkinan. Orangpun semakin tidak puas dengan ilmu yang ada dan mereka terus mencari apakah hakikat ilmu itu, untuk apa dan bagaimana orang agar sampai kepada ilmu. Hal inilah yang melatar belakangi munculnya filsafat sains yang bidang kajiannya tentu saja berbeda dengan kajian filsafat secara umum. Dengan argumen-argumen di atas manusiapun menyadari bahwa sains modern bukanlah satu-satunya pilihan mencari jawaban dari setiap pertanyaan keilmuan yang muncul. Dengan paradigma yang berbeda dapat diciptakan sains yang berbeda yang mungkin lebih membahagiakan manusia. Sejarah sains juga telah membuktikan dalam peradaban Mesir, Cina dan Islam sendiri pernah ada suatu sistem pengetahuan yang mampu memenuhi kebutuhan manusia-fisik, mental, dan spiritual dengan bersandar pada paradigma yang diyakini kebenarannya yang telah terbukti di mulailah gerakan pencarian alternatif-alternatif hakikat ilmu itu. B. Al-Ghazali dan Latar Belakang Kehidupannya Nama lengkapnya Abu Hamid Muhammad al-Ghazali, lahir pada tahun 1059 di Ghazaleh suatu kota kecil yang terletak di dekat arus khurasan. Di masa mudanya ia belajar di Nisyapur kemudian ke khurasan yang pada waktu itu merupakan salah satu pusat ilmu pengetahuan yang penting di dunia Islam. Ia kemudian menjadi murid imam al-Haramain al-Juwaini Guru besar pada Madrasah al-Nizamain adalah keluarga pemintal benang Wol Ghazali Shuf. Pada masa kanak-kanak beliau belajar fiqh di Tus pada Imam Al-Razkani, kemudian beliau pindah untuk belajar teologi, logika dan filsafat di Naisabur. Ia kemudian memperdalam ilmunya pada Madrasah Nizamiyyat di Bagdad di bawah bimbingan Imam Haramain. Pada Madrasah ini al-Ghazali mengkaji berbagai ilmu pengetahuan. Ia kemudian di angkat sebagai pemimpin Madrasah tersebut setelah Gurunya meninggal dunia dan tetap di sana selama empat tahun. Ayahnya juga seorang sufi yang sangat waraโ€™ dan meninggal ketika al-Ghazali berusia muda. Sebelum meninggal ia menitipkan al-Ghazali kepada sufi lain untuk memperoleh bimbingan. Untuk menambah pengalamannya al-Ghazali meninggalkan jabatannya sebagai Guru dan mengembara ke Siria, Mesir dan Mekkah, tetapi akhirnya kembali ke Naisapur selanjutnya ke Tus tempat kelahirannya. Di sanalah ia meninggal pada tanggal 14 jumadil Akhir pada tahun 505 H./9 januari 1111 M. Sebelum wafat yakni ketika beliau berada di Bagdad, ia selain mengajar juga memberikan bantahan-bantahan terhadap pikiran-pikiran golongan Bathiniyah, kaum Islamiyah dan para filosof. Pada saat itu \pulalah al-Ghazali senantiasa di bayangi oleh keraguan-keraguan terhadap apa yang pernah di ikhtiarkan sehingga ia pun mengidap penyakit yang tidak bisa diobati, ia kemudiann meninggalkan pekerjaanya dan berangkat ke Damsyik. Di kota inilah Mahdi Ghulsyani, The holy Qurโ€™an and the Science of Nature, diterjemahkan Agus Efendi dengan judul Filsafat Sains menurut Al-Qurโ€™an, Bandung Mizan, 1991, 21. Harun Nasution, Filsafat dan Mistisme dalam Islam, Jakarta Bulan Bintang, 1978, 41. Mahmud Qasim, Dirsat Al-Falsafat al-Islamy, Qairo Dar al-Maโ€™rif, 1997, 38. Ahmad Daudy, Kuliah Filsafat Islam, Jakarta Bulan Bintang, 1996, 97-98. ia memperoleh inspirasi dan membuka jalan baginya untuk memilih jalan ber-uzlah sebagai cara terbaik dalam menapaki kehidupan jalan uzlah inilah al-Ghazali akhirnya memperoleh berkas cahaya dari Tuhan yang menentramkan jiwanya. Dia menemukan jalan hidup yang ia yakini dan dirasakannya penuh dengan kedamaian, yakni tasawuf. Al-Ghazali tidak lagi mengandalkan akal semata-mata, tetapi di samping tetap menghargai akal sebagai karunia Tuhan juga ada berupa nur yang dilimpahkan kepada hambanya yang bersungguh-sungguh mencari kebenaran. Bagi al-Ghazali akal kadang kala menyeret seseorang kepada pemahaman yang menyesatkan apabila tidak di landasi iman yang kian hari semakin tekun beribadah dan berupaya untuk tidak terpengaruh dengan berbagai kesenangan duniawi dan segala tanda-tanda kebesaran. Ia bertahan dalam hidup dan dalam suasana yang serba kekurangan, larut dalam hidup kerohanian dan senantiasa mengutamakan kepentingan ukhrawi. Dialah orang pertama dalam filsafat sufistik dan tokoh pembesar pembela Aqidah Islam. Setelah berkhalawat di tanah suci dan memperoleh apa yang dia cari ia berusaha untuk menyumbangkan segenap tenaga dan pikirannya membela agamanya dari paham-paham Hakikat Ilmu Mengenai hakikat ilmu secara mutlak tidak dikaitkan dengan objek atau disiplin ilmu tertentu, para ulama islam atau para pakar berbeda pandangan apakah ia merupakan sesuatu yang daruri, a priori, yang dapat dikonsepsi sifatnya begitu saja sehingga tidak memerlukan definisi, atau nazari infrensial, tetapi sulit mendefinisikannya, melainkan hanya bisa lebih jelas dikonsepsi dengan analisis/klasifikasi dan contoh, atau nazari yang tidak sulit ulama Bayaniyyun mengakui sulitnya pendefinesian ilmu, sebab ternyata dikalangan mereka sendiri bermunculan aneka definisi dan masing-masing hanya membenarkan definisinya sendiri. Definisi-definisi terkuat adalah sebagai berikut. Poerwantana, dkk., Seluk Beluk Filsafat Islam, Bandung CV. Rosda Karya Karya, 1988, 166. Yunasril Ali, Perkembangan Pemikiran Filsafat dalam Islam, Jakarta Bumi Aksara, 1991, 68. Endang Daruni Asdi & A. Husnan Aksa, Filsuf-Filsuf Dunia dalam Gambar, Yogyakarta Karya Kencana, Cet. I, 1981, 18. Saeful Anwar, Filsafat Ilmu Al-Ghazali Demensi Ontologi dan Aksiologi, Bandung CV. Pustaka Setia, 2007, 89. 1. Definisi Ibnu Rusyd 520-595 H/ 1126-1198 M ๎€‘๎‡พ๎ˆˆ๎‡ด๎‡Ÿ๎€ƒ๎ˆ‚๎‡ฟ๎†ข๎‡ท๎€ƒ๎ˆ„๎‡ด๎‡Ÿ๎€ƒ๎†ž๎ˆˆ๎‡Œ๎‡ณ๎‚ฆ๎€ƒ๎†จ๎‡ง๎‡‚๎‡ ๎‡ท๎€ƒ๎ˆ‚๎‡ฟ๎€ƒ๎…˜๎ˆˆ๎‡ฌ๎ˆˆ๎‡ณ๎‚ฆ๎€ƒ๎‡ถ๎‡ด๎‡ ๎‡ณ๎‚ฆ๎€ƒ๎ƒ€๎‚ข Artinya Sesungguhnya ilmu yaqini adalah mengetahui sesuatu sebagaimana realitasnya Definisi Ibnu Hazm 384-456 H/ 924-1064 M ๎ˆ‚๎‡ฟ๎€ƒ๎‡ถ๎‡ด๎‡ ๎‡ณ๎‚ฆ๎€ƒ๎‡บ๎‡ฌ๎ˆˆ๎†ซ๎€ƒ๎€‘๎‡พ๎ˆˆ๎‡ด๎‡Ÿ๎€ƒ๎ˆ‚๎‡ฟ๎†ข๎‡ท๎€ƒ๎ˆ„๎‡ด๎‡Ÿ๎€ƒ๎†ž๎ˆˆ๎‡Œ๎‡ณ๎‚ฆ Artinya Ilmu adalah meyakini sesuatu sebagaimana ralitasnya Definisi Juwaini 419-478 H dan Baqilani keduanya dari Asyโ€™ariyah, dan Abu Yaโ€™la dari Hanabilah sebagai berikut ๎‡ณ๎‚ฆ๎€ƒ๎†จ๎‡ง๎‡‚๎‡ ๎‡ท๎€ƒ๎‡ถ๎‡ด๎‡ ๎‡ณ๎‚ฆ๎‚ฟ๎ˆ‚๎‡ด๎‡ ๎€ƒ๎€ƒ๎ˆ‚๎‡ฟ๎†ข๎‡ท๎€ƒ๎ˆ„๎‡ด๎‡Ÿ๎‡พ๎†ฅ๎€‘ Artinya Ilmu adalah mengatahui objek ilmu sesuai Definisi Muโ€™tazilah ๎€ƒ๎€ƒ๎ˆ‚๎‡ฟ๎€ƒ๎‡พ๎†ฅ๎€ƒ๎ˆ‚๎‡ฟ๎€ƒ๎†ข๎‡ท๎€ƒ๎ˆ„๎‡ด๎‡Ÿ๎€ƒ๎†ž๎ˆˆ๎‡Œ๎‡ณ๎‚ฆ๎€ƒ๎‚ฎ๎†ข๎‡ฌ๎†ฌ๎‡Ÿ๎‚ค๎€ƒ๎‡ž๎‡ท๎€‘๎€‹๎€ƒ๎‡‚๎‡œ๎‡ป๎€ƒ๎ƒ‚๎‚ข๎€ƒ๎‚จ๎‚ฐ๎ƒ‚๎‡‚๎‡“๎€ƒ๎‡ž๎‡ซ๎ƒ‚๎€ƒ๎‚ฆ๎‚ฏ๎‚ค๎€ƒ๎€Œ๎€ƒ๎†พ๎‡ฌ๎†ฌ๎‡ ๎…ญ๎‚ฆ๎€ƒ๎…„๎‚ฆ๎€ƒ๎‡†๎‡จ๎‡ผ๎‡ณ๎‚ฆ๎€ƒ๎…›๎‡—๎ˆ‚๎†ซ Artinya Ilmu adalah mengitikadkan mempercayai sesuatu sesuai dengan kenyataannya disertai ketenangan dan ketetapan jiwa padanya bila ia muncul secara daruri atau nazari. Seperti dirumuskan Abd. Al-Jabbar bahwa Ilmu adalah ๎€‘๎†ค๎‡ด๎‡ฌ๎‡ณ๎‚ฆ๎€ƒ๎†จ๎‡ผ๎ˆˆ๎‡ป๎‚ ๎†ข๎‡ธ๎‡—๎ƒ‚๎€ƒ๎‚ฐ๎†พ๎‡๎‡ณ๎‚ฆ๎€ƒ๎†ฒ๎‡ด๎†ฏ๎ƒ‚๎€ƒ๎‡†๎‡จ๎‡ผ๎‡ณ๎‚ฆ๎€ƒ๎ƒ€๎ˆ‚๎‡ฐ๎‡‡๎€ƒ๎ˆ„๎‡”๎†ฌ๎‡ฌ๎ˆ‡๎€ƒ๎†ข๎‡ท Artinya Apa yang menghasilkan ketenangan jiwa, kesejukan dada, dan ketentraman Definisi para filosof kuno ๎€ƒ๎€ƒ๎‚ ๎ˆ†๎‡Œ๎‡ณ๎‚ฆ๎€ƒ๎ƒ€๎†ข๎‡ฏ๎€ƒ๎‚ ๎‚ฆ๎ˆ‚๎‡‡๎€ƒ๎‡บ๎‡ฟ๎‡€๎‡ณ๎‚ฆ๎€ƒ๎„พ๎€ƒ๎‡พ๎†ซ๎‚ฐ๎ˆ‚๎‡๎€ƒ๎‚ธ๎†ข๎†ฆ๎‡˜๎‡ป๎ƒ‚๎‚ข๎€ƒ๎‚๎‡ฒ๎‡ฌ๎‡ ๎‡ณ๎‚ฆ๎€ƒ๎ƒƒ๎†พ๎‡ณ๎€ƒ๎†ž๎ˆˆ๎‡Œ๎‡ณ๎‚ฆ๎€ƒ๎‚จ๎‚ฐ๎ˆ‚๎‡๎€ƒ๎‚พ๎ˆ‚๎‡๎†ท๎€ƒ๎‡พ๎‡ป๎€ƒ๎‚ ๎Šญ๎€ƒ๎‚๎†ข๎ˆˆ๎†Ÿ๎‡„๎†ณ๎€ƒ๎‚ฟ๎‚ข๎†ข๎ˆˆ๎‡ด๎‡ฏ๎€‘๎†ข๎‡ท๎ˆ‚๎‡ด๎‡ ๎‡ท๎ƒ‚๎‚ข๎€ƒ๎‚ฆ๎‚ฎ๎ˆ‚๎†ณ๎ˆ‚๎‡ท Artinya Ilmu adalah terhasilkannya gambar sesuatu pada akal, sama saja apakah sesuatu itu merupakan universal atau partikuler, baik ada maupun Rusyd, Tahafut al-Tahafut, Bairut Dar al-Fikr al-Lubnani, 1993, 296. Ibn Hazm, Ali Ibn Ahmad, Al-Ihkam fiUsul al-Ahkam,BairutDar Al-Kutub al-Ilmiyah, 38. Al-Juwaini, Al-Irsyad, Mesir Matbaโ€™ah al-Madani, 1983, 12-13. Ibid., 14. 6. Definisi Asy-Syaukani w. 1255 H, dari family Zaidi yang didukung Qannuji, sebagai berikut ๎‡ถ๎‡ด๎‡ ๎‡ณ๎‚ฆ๎€ƒ๎€‘๎†ข๎‡ท๎Šซ๎€ƒ๎†ข๎‡ง๎†ข๎‡ˆ๎‡ฐ๎‡ป๎‚ฆ๎€ƒ๎‚ง๎ˆ‚๎‡ด๎‡˜๎…ญ๎‚ฆ๎€ƒ๎†ข๎„‘๎€ƒ๎‡ฆ๎‡Œ๎‡ฐ๎‡ผ๎ˆ‡๎€ƒ๎†จ๎‡จ๎‡ Artinya Ilmu adalah sifat yang dengannya apa yang dicari terbuka secara sempurna. 7. Sedangkan Eko Ariwidodo Dosen tetap mata kuliah ilmu logika, filsafat ilmu, dan hermeneutika di TBI IAIN Madura, berasumsi bahwa ilmu atau sains itu hanya berurusan semata-mata dengan fakta tidak mendapat dukungan dari praktek sains itu beberapa pandangan tentang pengertian ilmu diatas Al-Ghazali berpendapat bahwa makna lebih penting ketimbang lafazh, oleh karena itu Al-Ghazali menguraikan tiga definisi tentang ilmu tersebut, yaitu definisi esensial haqiqi, definisi formal-differensial rasmi, dan definisi redaksional-eksplanatif lafzi. Karena fungsi dan tujuan difenisi adalah memperjelas apa yang belum jelas, ia hanya diperlukan untuk mengonsepsi sesuatu yang tidak dapat dikonsepsi secara a priori seperti satuan makna simple. Ia tidak menegaskan apakah pengonsepsian hakikat ilmu itu a priori atau inferensial, tetapi ditegaskannya bahwa hakikat ilmu sulit didefinisikan secara hakiki, baik karena esensi, fungsi dan persyaratan definisi sendiri, maupun karena pendifenisian hakikat ilmu selalu terkait dengan konsep ontologis pembuatnnya. Dan bagi Al-Ghazali, ilmu secara subtansial hanya satu tidak ada pemisahan pada ilmu lahir dan ilmu batin, kecuali dari segi itu, menurutnya dan menurut Al-Juwaini, pengonsepsian hakikat ilmu lebih mudah dengan analisis/klasifikasi untuk memproleh makna formal, dan dengan contoh untuk memproleh makna esensial. Dengan analisis ilmu berbeda dengan iradah kehendak, qudrah kemampuan dan sifat jiwa lain, Dan berbeda dengan Iโ€™tiqad presuposisi, zann dugaan kuat, syak skeptik, jahl ketidak tahuan dan apa yang diperoleh bukan dengan pembuktian dan berawal dari skeptik. Jika ilmu dengan syak dan zann karena pada dua yang terakhir tidak dapat Jaโ€™far Al-Sahbani, Nazariyyat al-Maโ€™rifah Bairut al-Dar Al-Islamiyah, 1990, 20. Eko Ariwidodo, Pradigma Reduksionisme Epistemik dalam Rekayasa Genitika, ejournal Al-Ghazali , al-Mustofa min Ilm al-Usul, Bairut Dar al-Fikr, jld. I, 145. kepastian jazm ia berbeda dengan Iโ€™tiqad dalam arti memastikan lebih dahulu satu dari dua alternatif dalam posisi yang sebenarnya posisi skeptik, disertai tasawwuf bersitegguh padanya tanpa menyadari kemungkinan benarnya alternatif lain. Iโ€™tiqad dalam arti ini, presuposisi sekalipun sesuai denga realitas objek substansinya sendiri merupakan salah satu bentuk jahl kebodohan, maskipun dari sudut relasinya dengan objek bisa berbeda dengan jahl, yakni bila sesuai dengan realitas objek. Dengan demikian hakikat ilmu tidak cukup hanya dengan sesuianya kepercayaan atau pernyataan denga realitas objek, tapi juga mengenai ilmu infrensial, harus berdasarkan metode ilmiah tertentu yang berpangkal pada skeptik dan putusan itu merupakan keyakinan yang pasti. Metode analitik dengan ketiga kriteria ilmu menyangkut aspek aspek ontologies, epistimologis dan aksiologis yang diajukan Al-Ghazali dan inilah yang diikuti dan dirumuskan Ar-Razi bahwa ilmu adalah putusan akal yang pasti dan sesuai dengan realitas objek berdasarkan metode ilmiah mujib menurutnya ada dua jalan untuk memperoleh ilmu, yaitu jalan a prori yang berupa akala a priori badihat al-aql dan empiri sensual dasar awaโ€™il al-hasisi, dan penalaran berdasarkan premis-premis yang berakar palan a priori. Akan tetapi, ia mengakui bahwa ilmu diperoleh pula dengan dengan cara mengikuti orang yang diperintahkan Alloh untuk diikuti, maskipun bukan ilmu a priori dan tanpa argument, sehingga yang mengiktikadkan dan menyatakan sudah memiliki ilmu dan maโ€™rifah mengenai objek tersebut. Karena pernyataan yang pasti dari subjek selain Nabi tentang wahyu yang diterima Nabi dan sesuai dengan realitas wahyu dan Nabi sendiri berdasarkan metode ilmiah tersebut juga disebut ilmu, sedangkan yang yang tanpa argument adalah Iโ€™tikad, dan yang tidak pasti adalah zann atau Al-Ghazali, ada tiga macam tasdiq assent secara gradual. Pertama zann dugaan kuat, yaitu kecondongan jiwa kepada salah satu dari dua perkara dengan mengakui kemungkinan sebaliknya, tetapi kemungkinan ini tidak menghalangi kecondongan pada yang pertama. Al-Ghazali , al-Mustofa min Ilm al-Usul, 133. Saeful Anwar, Filsafat Ilmu Al-Ghazali Demensi Ontologi dan Aksiologi, 97. Kedua Iโ€™tiqad jazim kepercayaan yang teguh/tetap, yaitu tasdiq yang pasti, yaitu seseorang tidak ragu dan tidak merasa adanya kemungkinan benar pada kepercayaan lain. Akan tetapi, bila kepercayaan sebaliknya itu diriwayatkan secara kuat dari manusia yang paling pintar dan terpercaya disisinya, seperti Nabi, hal itu menimbulkan keragua tertentu terhadap kepercayaannya. Inilah kepercayaan yang mayoritas kepercayaan mayoritas masyarakat awam dari kalangan muslimin, yahudi dan nashrani mengenai doktrin-doktrin keagamaan dan mazhabnya bahkan mayoritas kepercayaan ahli kalam mengenai doktrin-doktrin keagamaan dan argument-argumen dialektik atau apologetiknya yang mereka terima berdasarkan prasangka baik dan popularitas tokoh-tokohnya, serta penulakan secara a priori terhadap mazhab lain dan dibesarkan dalam tradisi ini sejak masa kanak-kanak. Ketiga ilmu yaqini, yaitu tasdiq yang kebenarannya diyakini secara pasti, disertai keyakinan yang pasti pula bahwa keyakinannya yang pasti itu benar, yakni keduanya tidak mengandung kemungkinan lupa, salah atau bahkan keliru, dan tak terbayang pendapatnya akan berubah dengan alasan apapun. Kalaupun diinformasikan pernyataan yang berlawanan dari nabi, misalnya, dengan bukti kesalahan adalah mukjizatnya, hal ini tidak mempengaruhi pendapatnya, melainkan membuatnya menertawakan, membodohkan, mendustakan, dan menyalahkan pembawa informasi atau nabi palsu itu. Jika masih terlintas dibenaknya kemungkinan bahwa Alloh menjadikan nabi-Nya mampu melihat rahasia yang berlawanan dengan pendapat orang itu, putusannya itu bukahlah ilmu yaqini. Ilmu macam ini misalnya ilmu-ilmu a priori, misalnya bahwa sebagian lebih kecil dari keseluruhan, seseorang tidak berada didua tempat pada waktu yang sama, dan hukum-hukum kontradiksi lain, serta ilmu-ilmu yang diperoleh dari bukti-bukti yang menimbulkan keyakinan yang pasti seperti itu, dengan mengatakan zann hanya bisa diakui dalam dunia dan disiplin ilmu praksis amal dan ilmu amali, seperti ilmu fiqih dan ilmu-ilmu empirik-eksperimental tarbiyah, iman keyakinan keagamaan terbagi tiga kelas srecara gradual, yaitu iman awam, yang berdasarkan taqlid murni mengekor/ikut tanpa argument, iman mutakallimin, yaitu didukung oleh semacam argument, dan Al-Ghazali , al-Mustofa min Ilm al-Usul, 43. iman arifin yang memiliki maโ€™rifah, yaitu dengan berdasarkan mukasyafah penyingkapan dan musyahadah penyaksian melalui riyadhah latihan spiritual dan mujahadah perjuangan drajad tasdiq/iman ini diumpamakan dengan tasdiq terhadap adanya si Zaid dirumah. Drajad pertama dicapai berdasarkan taqlid semata kepada orang yang menginformasikan hal itu, yang dipercayai berdasarkan pengalaman bahwa ia benar. Demikian iman awam yang memeluk agama warisan dari orang tua atau guru. Disini muslim sama saja dengan umat Yahudi dan Nashrani dari sudut mempercayai sesuatu tanpa argument. Hanya saja, mereka mempercayai yang salah, sedangkan muslim mempercayai yang benar. Drajat kedua, kita mendengar pembicaraan dan suara si Zaid dari dalam rumah sedangkan kita diluar rumah, sehingga kepercayaan kita lebih kuat ketimbang semata-mata berdasarkan informasi orang lain. Akan tetapi hal ini masih mengandung kemungkinan salah, sebab suara kadang bermiripan, maskipun kita tidak menyadarinya. Drajad ketiga, kita masuk kedalam rumah sehingga menyaksikan si Zaid secara langsung dengan mata kepala sendiri musyahadah. Inilah maโ€™rifah haqiqiyah penyaksian yang meyakinkan, yang mustahil mengandung kemungkinan salah. Drajad inipun gradual, sperti terangnya cahaya, kuatnya konsentrasi dan macam itulah ilmu yaqini yang dicari Al-Ghazali dan menjadi puncak dari filsafat ilmunya, sperti dinyatakan sebagai berikut ๎–๎Ž‹๎ŽŽ๎˜๎Žค๎Ž‘๎€ƒ๎ข๎ ๎Œ๎Ÿ๎Ž๎€ƒ๎ฒ๎Ž‘๎ฎ๎ ๎„๎ฃ๎€ƒ๎ŽŽ๎ค๎ง๎އ๎€ƒ๎ป๎ญ๎Žƒ๎€ƒ๎€๎€ƒ๎ฒ๎Žด๎”๎ง๎€ƒ๎ฒ๎“๎€ƒ๎Ž–๎ ๎˜๎“๎€ƒ๎€ƒ๎€‘๎ฒ๎ซ๎ŽŽ๎ฃ๎€ƒ๎ข๎ ๎Œ๎Ÿ๎Ž๎€ƒ๎Ž”๎˜๎ด๎˜๎Žฃ๎€ƒ๎ސ๎ ๎๎€ƒ๎Žช๎Ž‘๎ผ๎“๎€ƒ๎Žญ๎ฎ๎ฃ๎ท๎Ž๎€ƒ๎ช๎ง๎Žญ๎ŽŽ๎˜๎ณ๎ป๎ญ๎€ƒ๎ސ๎ณ๎Žญ๎€ƒ๎ช๎Œ๎ฃ๎€ƒ๎ฐ๎˜๎Ž’๎ณ๎ป๎€ƒ๎ŽŽ๎“๎ŽŽ๎Žธ๎œ๎ง๎Ž๎€ƒ๎ก๎ฎ๎ ๎Œ๎ค๎Ÿ๎Ž๎€ƒ๎ช๎จ๎ฃ๎€ƒ๎’๎Žธ๎œ๎จ๎ณ๎€ƒ๎ฑ๎Žฌ๎Ÿ๎Ž๎ฎ๎ซ๎€ƒ๎ฒ๎จ๎ด๎˜๎ด๎Ÿ๎Ž๎€ƒ๎ข๎ ๎Œ๎Ÿ๎Ž๎€ƒ๎ฅ๎Ž๎€ƒ๎ฒ๎Ÿ๎Žฎ๎ˆ๎“๎€ƒ๎ฅ๎ฎ๎œ๎ณ๎€ƒ๎ฅ๎Žƒ๎€ƒ๎ฐ๎๎Ž’๎จ๎ณ๎€ƒ๎Ž„๎„๎Žจ๎Ÿ๎Ž๎€ƒ๎ฆ๎ฃ๎€ƒ๎ฅ๎ŽŽ๎ฃ๎ท๎Ž๎€ƒ๎ž๎Ž‘๎€ƒ๎š๎Ÿ๎Ž๎Žซ๎€ƒ๎Žฎ๎ณ๎Žช๎˜๎Ž˜๎Ÿ๎€ƒ๎ސ๎ ๎˜๎Ÿ๎Ž๎€ƒ๎Š๎Žด๎Ž˜๎ณ๎ป๎ญ๎€ƒ๎‹ฌ๎ข๎ซ๎ฎ๎Ÿ๎Ž๎ญ๎€ƒ๎‚๎ ๎๎Ÿ๎Ž๎€ƒ๎ฅ๎ŽŽ๎œ๎ฃ๎Ž๎€ƒ๎ผ๎Žœ๎ฃ๎€ƒ๎ช๎ง๎ผ๎„๎Ž‘๎€ƒ๎Žญ๎ŽŽ๎ฌ๎…๎ŽŽ๎Ž‘๎€ƒ๎ฏ๎Žช๎Žค๎Ž—๎ฎ๎Ÿ๎€ƒ๎Ž”๎ง๎Žญ๎ŽŽ๎˜๎ฃ๎€ƒ๎ฆ๎ด๎˜๎ด๎ ๎Ÿ๎€ƒ๎ŽŽ๎ง๎Žญ๎ŽŽ๎˜๎ฃ๎€ƒ๎Žฎ๎Ž ๎Žค๎Ÿ๎Ž๎€ƒ๎ސ๎ ๎˜๎ณ๎€ƒ๎ฆ๎ฃ๎€ƒ๎ŽŽ๎ง๎ŽŽ๎Ž’๎Œ๎Ž›๎€ƒ๎ŽŽ๎Žผ๎Œ๎Ÿ๎Ž๎ญ๎€ƒ๎ŽŽ๎Ž’๎ซ๎Žซ๎€ƒ๎€๎€ƒ๎ž๎Ž‹๎ŽŽ๎˜๎Ÿ๎Ž๎€ƒ๎๎ŽŽ๎—๎ญ๎€ƒ๎€‘๎Ž”๎Ž›๎ผ๎Žœ๎Ÿ๎Ž๎€ƒ๎ฆ๎ฃ๎€ƒ๎Žฎ๎Žœ๎›๎Ž๎€ƒ๎Ž“๎Žฎ๎Žธ๎Œ๎Ÿ๎Ž๎€ƒ๎ฅ๎Žƒ๎€ƒ๎Ž–๎ค๎ ๎‹๎Žซ๎Ž๎€ƒ๎ฒ๎ง๎ŽŽ๎“๎€ƒ๎€‘๎ŽŽ๎ง๎ŽŽ๎œ๎ฃ๎Ž๎ญ๎€ƒ๎ŽŽ๎œ๎Žท๎€ƒ๎š๎Ÿ๎Ž๎Žซ๎€ƒ๎Ž™๎Žญ๎ฎ๎ณ๎€ƒ๎ข๎Ÿ๎€ƒ๎š๎Žท๎Žƒ๎€ƒ๎ข๎Ÿ๎€ƒ๎ช๎จ๎ฃ๎€ƒ๎š๎Ÿ๎Ž๎Žซ๎€ƒ๎Ž•๎Žช๎ซ๎ŽŽ๎Žท๎ญ๎€ƒ๎ŽŽ๎ฌ๎Ž’๎ ๎—๎ญ๎€ƒ๎ŽŽ๎ง๎ŽŽ๎Ž’๎Œ๎Ž›๎€ƒ๎ŽŽ๎Žผ๎Œ๎Ÿ๎Ž๎€ƒ๎ฉ๎Žฌ๎ซ๎€ƒ๎ސ๎ ๎—๎Žƒ๎€ƒ๎ฒ๎ง๎Žƒ๎€ƒ๎ž๎ด๎Ÿ๎Žช๎Ž‘๎€ƒ๎Žฎ๎Žœ๎›๎Ž๎€ƒ๎Ž”๎Ž›๎ผ๎Žœ๎Ÿ๎Ž๎€ƒ๎ž๎Ž‘๎ป๎€ƒ๎ป๎Ž๎€ƒ๎ช๎จ๎ฃ๎€ƒ๎ช๎Ÿ๎€ƒ๎ž๎Žผ๎Žค๎ณ๎€ƒ๎ข๎Ÿ๎ญ๎€ƒ๎ฒ๎Ž˜๎“๎Žฎ๎Œ๎ฃ๎€ƒ๎ฐ๎“๎€ƒ๎ช๎Ž’๎Ž’๎Žด๎Ž‘๎€ƒ๎ŽŽ๎ค๎ด๎“๎€ƒ๎š๎Žธ๎Ÿ๎Ž๎ŽŽ๎ฃ๎Ž„๎“๎€ƒ๎€‘๎ช๎ด๎ ๎‹๎€ƒ๎ช๎Ž—๎Žญ๎Žช๎—๎€ƒ๎Ž”๎ด๎”๎ด๎›๎€ƒ๎ฆ๎ฃ๎€ƒ๎ސ๎Ž ๎Œ๎Ž˜๎Ÿ๎Ž๎€ƒ๎ฆ๎ฃ๎€ƒ๎‰๎ฎ๎จ๎Ÿ๎Ž๎€ƒ๎Ž๎Žฌ๎ซ๎€ƒ๎ฐ๎ ๎‹๎€ƒ๎ช๎จ๎˜๎ด๎Ž—๎Ž๎€ƒ๎ป๎ญ๎€ƒ๎ช๎ŽŸ๎ฎ๎Ÿ๎Ž๎€ƒ๎Ž๎Žฌ๎ซ๎€ƒ๎ฐ๎ ๎‹๎€ƒ๎ช๎ค๎ ๎‹๎Žƒ๎€ƒ๎ป๎ŽŽ๎ฃ๎€ƒ๎ž๎›๎€ƒ๎ฅ๎Žƒ๎€ƒ๎Ž–๎ค๎ ๎‹๎€ƒ๎ข๎Ž›๎€ƒ๎€๎ผ๎“๎€ƒ๎ช๎Ž˜๎ค๎ ๎‹๎€‘๎ฒ๎จ๎ด๎˜๎ณ๎€ƒ๎ข๎ ๎Œ๎Ž‘๎€ƒ๎Žฒ๎ด๎ ๎“๎€ƒ๎ช๎Œ๎ฃ๎€ƒ๎ฅ๎ŽŽ๎ฃ๎Žƒ๎€ƒ๎ป๎€ƒ๎ข๎ ๎‹๎€ƒ๎ž๎›๎ญ๎€ƒ๎ช๎Œ๎ฃ๎€ƒ๎ฅ๎ŽŽ๎ฃ๎Žƒ๎€ƒ๎ป๎ญ๎€ƒ๎ช๎Ž‘๎€ƒ๎Ž”๎˜๎Ž›๎ป๎€ƒ๎ข๎ ๎‹๎€ƒ๎ฎ๎ฌ๎“๎€ƒ๎ฆ๎ด๎˜๎ด๎Ÿ๎Ž Saeful Anwar, Filsafat Ilmu Al-Ghazali Demensi Ontologi dan Aksiologi, 97. Ibid., 99. Artinya Lalu aku berkata dalam diriku pertama-tama apa yang kucari adalah ilmu tentang hakikat segala sesuatu. Maka haruslah lebih dahulu mengatahui apa itu hakikat ilmu. Lalu, tampakkah kepadaku bahwa ilmu yaqini adalah sesuatu yang dengannya objek ilmu terbuka dengan keterbukaan yang tidak mengandung keraguan dan kemungkinan salah serta wahm estimasi. Kalbu mimang sulit untuk menentukan hal itu, tetapi rasa aman dari kesalahan harus menyertai keyakinan sedemikian rupa, sehingga kalaupun ia dinyatakan salah oleh seseorang yang mampu mengubah batu menjadi emas, atau mengobah tongkat menjadi ular, misalnya, hal ini tidak menimbulkan sedikitpun keraguan atau kemungkian salah dalam diriku. Sebab, bila aku mengatahui bahwa 10 lebih banyak dari 3, lalu orang lain mengatakan, tidak, melainkan 3 lebih banyak dari 10, dengan bukti bahwa aku bisa mengubah tongkat ini menjadi ular dan kusaksikan memang terbukti demikian, hal itu tidak menggoyahkan maโ€™rifah-ku dan tidak menghasilkan apa-apa dalam diriku selain kekaguman atas kemampuannya mengenai hal itu. Adapun skeptik dalam diriku tidak. Kemudian aku tahu bahwa setiap sesuatu yang tidak aku ketahui dengan cara seperti ini, dan aku tidak meyakininya dengan tingkat kepastian sperti ini, adalah ilmu tak dapat dipengangi dan tidak dapat menimbulkan rasa aman, sedang setiap ilmu yang tidak dapat menimbulkan rasa aman bukanlah ilmu analitik dengan ketiga kereteria ilmu yang diajukan Al-Ghazali di atas sebenarnya merupakan refleksi pemikiran khususnya logika, para filosof sebelumnya sperti Alfarabi dan Ibnu Sina. Dan atas jasa Al-Ghazali-lah metode analitik dan klasifikasi kedalam ilmu, Iโ€™tiqad, zann, syak, wahm lawan zann dan jahl. Menjadi popular dan kokoh dalam kultur keilmuan islami sesudahnya, baik dalam ilmu kalam atau ilmu ushul fiqh dari berbagai mazhab. D. Penutup 1. Kesimpulan Al-Ghazali hidup ketika suasana pemikiran keagamaan dan kefilsafatan di dunia Islam memperlihatkan perkembangan dan keragaman, khususnya mengenai keragaman ilmu pengetahuan. Sejarah hidupnya menunjukan bahwa ia dalam usahanya mencari kebenaran menempuh proses yang panjang dengan mempelajari hampir seluruh sistem dan metode pemikiran pada masanya. Bagi al-Ghazali pengetahuan yang diperoleh melalui akal bisa saja salah karena pengetahuan yang di peroleh akal berhubungan dengan al-hiss dan al-wahm semata. Al-Ghazali menolak teori kausalitas para filosof, tetapi menerima metode demostratif mereka sebagai alat yang penting bagi pencapaian kepastian rasional dalam berbagi ilmu pengetahuan. Al-Ghazali, al-Munqis min al-Dalal, Mesir Maktabah wa Marbaโ€™ah, 1952, 10. Bagi al-Ghazali bukan ilmu namanya kalau tidak membawa ketenangan dan kedamaian baik pada dirinya dan pada masyarakat luas. Daftar Pustaka Ghulsyani, Mahdi. The holy Qurโ€™an and the Science of Nature, diterjemahkan Agus Efendi dengan judul Filsafat Sains menurut Al-Qurโ€™an, Bandung Mizan, 1991. Nasution, Harun, Filsafat dan Mistisme dalam Islam, Jakarta Bulan Bintang, 1978. Qasim, Mahmud, Dirsat Al-Falsafat al-Islamy, Qairo Dar al-Maโ€™rif, 1997. Daudy, Ahmad, Kuliah Filsafat Islam, Jakarta Bulan Bintang, 1996. Poerwantana, dkk., Seluk Beluk Filsafat Islam, Bandung CV. Rosda Karya Karya, 1988. Ali, Yunasril, Perkembangan Pemikiran Filsafat dalam Islam,Jakarta Bumi Aksara, 1991. A. Husnan Aksa, & Endang Daruni Asdi, Filsuf-Filsuf Dunia dalam Gambar, Yogyakarta Karya Kencana, Cet. I, 1981. Anwar, Saeful, Filsafat Ilmu Al-Ghazali Demensi Ontologi dan Aksiologi, Bandung CV. Pustaka Setia, 2007. Rusyd, Ibnu. Tahafut al-Tahafut, Bairut Dar al-Fikr al-Lubnani, 1993. Ali Ibn Ahmad, Ibn Hazm, Al-Ihkam fiUsul al-Ahkam, BairutDar Al-Kutub al-Ilmiyah, Al-Juwaini, Al-Irsyadd. Mesir Matbaโ€™ah al-Madani, 1983. Al-Sahbani, Jaโ€™far. Nazariyyat al-Maโ€™rifah, Bairut al-Dar Al-Islamiyah, 1990. Ariwidodo, Eko. Pradigma Reduksionisme Epistemik dalam Rekayasa Genitika, ejournal Al-Ghazali, al-Munqis min al-Dalal,Mesir Maktabah wa Marbaโ€™ah, 1952. ResearchGate has not been able to resolve any citations for this holy Qur'an and the Science of Nature, diterjemahkanMahdi GhulsyaniGhulsyani, Mahdi. The holy Qur'an and the Science of Nature, diterjemahkanDirsat Al-Falsafat al-Islamy, Qairo Dar al-Ma'rifMahmud QasimQasim, Mahmud, Dirsat Al-Falsafat al-Islamy, Qairo Dar al-Ma'rif, Beluk Filsafat IslamDkk PoerwantanaPoerwantana, dkk., Seluk Beluk Filsafat Islam, Bandung CV. Rosda Karya Karya, 1988. loading...Mengingat kematian akan menimbulkan rasa tidak suka terhadap dunia yang sarat dengan tipu daya, dan mendorong seseorang untuk mempersiapkan diri untuk kehidupan Akhirat. Foto/Ist Kematian adalah sesuatu yang pasti dan semua makhluk akan mengalaminya, tidak terkecuali manusia. Dalam Buku "Di balik Tabir Kematian" karya Imam Al-Ghazali disebutkan beberapa keutamaan mengingat kematian dalam setiap Islam, Imam Al-Ghozali wafat Tahun 505 Hijriyah atau 1111 M menukil beberapa pesan Nabi Muhammad sholallahu 'alaihi wasallam dalam Hadis. Beliau bersabdaุฃูƒุซุฑูˆุง ู…ู† ุฐูƒุฑ ู‡ุงุฐู… ุงู„ู„ุฐุงุชArtinya "Sering-seringlah mengingat sesuatu yang merusak kelezatan-kelezatan." HR At-TirmidziMaksudnya, rusaklah kenikmatan-kenikmatan dengan cara mengingat kematian, sehingga terhentilah kecenderungan kalian kepadanya, lalu kalian fokus menghadap Allah Ta' SAW juga bersabdaู„ูˆ ุชุนู„ู…ูˆ ุงู„ุจู‡ุงุฆู… ู…ู† ุงู„ู…ูˆุช ู…ุง ูŠุนู„ู… ุงุจู† ุงุฏู… ู…ุง ุฃูƒู„ุชู… ู…ู†ู‡ุง ุณู…ูŠู†ุงArtinya "Seandainya binatang-binatang ternak tahu seperti yang diketahui oleh anak cucu Adam tentang maut, niscaya kalian tidak akan tega memakan yang sangat gemuk daripadanya." HR Al-BaihaqiSayyidah Aisyah radhiyallahu 'anha bertanya "Wahai Rasulullah, apakah ada orang yang akan dikumpulkan bersama para syuhada?" Beliau bersabda "Ya, ada. Yaitu orang yang ingat mati sebanyak dua puluh kali sehari semalam."Alasan keutamaannya adalah, karena mengingat kematian otomatis akan menimbulkan rasa tidak suka terhadap dunia yang sarat dengan tipu daya, dan mendorong seseorang untuk mempersiapkan diri untuk kehidupan Akhirat. Sebaliknya, lalai dari mengingat kematian akan mendorongnya untuk tenggelam dalam kesenangan duniawi. Rasulullah SAW bersabdaุชุญูุฉ ุงู„ู…ุคู…ู†ูŠู† ุงู„ู…ูˆุชArtinya "Kematian adalah hadiah yang sangat berharga bagi orang yang beriman." HR Ibnu Abu Dun-ya dan ath-ThabraniBeliau bersabda seperti itu karena dunia memang penjara bagi orang yang beriman. Di dalam dunia, ia selalu berada dalam kesulitan karena harus mengalami kerasnya siksaan batin, melatih diri untuk menaklukkan keinginan-keinginan nafsunya, dan melawan setan. Kematian akan membebaskannya dari siksaan tersebut. Jadi, baginya itu jelas merupakan hadiah yang sangat SAW juga berpesan yang artinya "Kematian adalah kaffarat tebusan bagi setiap muslim."Menurut Nabi, seorang muslim sejati dan seorang mukmin yang hakiki adalah yang tidak menyakiti kaum muslimin dengan lisan maupun dengan tangannya. Hal itu terwujud dalam akhlak orang-orang mukmin yang belum tercemari oleh kemaksiatan-kemaksiatan, kecuali sebatas dosa-dosa paling kecil dan remeh. Kematian akan membersihkannya dari dosa-dosa seperti itu. Kematian juga menjadi tebusan baginya jika ia menjauhi dosa-dosa besar dan mengerjakan amalan-amalan yang diwajibkan oleh syariat. Baca Juga Wallahu A'lam rhs Oleh M. Taufik download lengkapnya pdf di sini Kebanyakan orang menyangka bahwa banyak sebab yang dapat menimbulkan kematian. Terserang penyakit berbahaya, kecelakaan lalu lintas, tenggelam karena banjir dll. Namun demikian, kenyataan menunjukkan bahwa tidak tiap orang yang menderita penyakit berbahaya, atau mengalami kecelakaan lalu-lintas, tertimpa gedung runtuh lantas langsung mati, bahkan ada orang yang tadinya mengalami keadaan seperti itu, dokterpun sudah angkat tangan, namun akhirnya ia sehat wal afiat. Sementara orang yang sebelumnya sehat, tiba-tiba meninggal. Maโ€™รขsyiral muslimรฎn rahรฎmakumullรขh Allah mengabarkan kepada kita bahwa hanya ada satu sebab kematian, yakni datangnya ajal yang telah ditetapkan saatnya oleh Allah SWT. ูˆูŽู…ูŽุง ูƒูŽุงู†ูŽ ู„ูู†ูŽูู’ุณู ุฃูŽู†ู’ ุชูŽู…ููˆุชูŽ ุฅูู„ู‘ูŽุง ุจูุฅูุฐู’ู†ู ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ูƒูุชูŽุงุจู‹ุง ู…ูุคูŽุฌู‘ูŽู„ู‹ุง โ€œSesuatu yang bernyawa tidak akan mati melainkan dengan izin Allah sebagai ketetapan yang tertentu waktunyaโ€ Ali Imran 145 ููŽุฅูุฐูŽุง ุฌูŽุงุกูŽ ุฃูŽุฌูŽู„ูู‡ูู…ู’ ู„ูŽุง ูŠูŽุณู’ุชูŽุฃู’ุฎูุฑููˆู†ูŽ ุณูŽุงุนูŽุฉู‹ ูˆูŽู„ูŽุง ูŠูŽุณู’ุชูŽู‚ู’ุฏูู…ููˆู†ูŽ โ€œMaka jika telah datang ajalnya, mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaatpun dan tidak dapat memajukannyaโ€ QS. al-Aโ€™raf34 Bila ajal seseorang datang, maka saat itulah dia mati, tidak peduli dia siap atau tidak, tidak peduli dia sakit atau sehat, tidak peduli dia tua, muda atau anak-anak. Tidak ada seorangpun yang bisa mencegahnya maupun memajukannya. Maโ€™รขsyiral muslimรฎn rahรฎmakumullรขh Keyakinan akan kematian seperti ini, merupakan salah satu landasan kekuatan umat Islam. Dengan keyakinan ini mereka tidak akan takut menyuarakan dan membela kebenaran walaupun banyak yang menentang dan mengancamnya, mereka justru berharap kematian mendatanginya saat dia melakukan ketaatan kepada Allah SWT. Khalid bin al Walid sahabat yang telah menghadapi lebih dari 50 pertempuran besar, pernah hanya dengan 3 ribu pasukan menghadapi 200 ribu pasukan musuh dalam perang Muโ€™tah, pernah hanya dengan 40 ribu pasukan menghadapi 240 ribu pasukan musuh dalam perang Yarmuk, beliau ternyata meninggal dipembaringan, menjelang kematiannya beliau berkata ู„ูŽู‚ููŠู’ุชู ูƒูŽุฐูŽุง ูˆูŽูƒูŽุฐูŽุง ุฒูŽุญู’ูุงู‹ุŒ ูˆูŽู…ูŽุง ูููŠ ุฌูŽุณูŽุฏููŠ ุดูุจู’ุฑูŒ ุฅูู„ุงู‘ูŽ ูˆูŽูููŠู’ู‡ู ุถูŽุฑู’ุจูŽุฉูŒ ุจูุณูŽูŠู’ููุŒ ุฃูŽูˆู’ ุฑูŽู…ู’ูŠูŽุฉูŒ ุจูุณูŽู‡ู’ู…ูุŒ ูˆูŽู‡ูŽุง ุฃูŽู†ูŽุง ุฃูŽู…ููˆู’ุชู ุนูŽู„ูŽู‰ ููุฑูŽุงุดููŠ ุญูŽุชู’ููŽ ุฃูŽู†ู’ูููŠ ูƒูŽู…ูŽุง ูŠูŽู…ููˆู’ุชู ุงู„ุนููŠู’ุฑูุŒ ููŽู„ุงูŽ ู†ูŽุงู…ูŽุชู’ ุฃูŽุนู’ูŠูู†ู ุงู„ุฌูุจูŽู†ูŽุงุกู โ€œAku menghadapi banyak pertempuran besar, tidak ada satu jengkalpun di tubuhku melainkan ada bekas pukulan pedang, atau lemparan anak panah, dan inilah aku, mati di tempat tidur seperti keledai mati. Maka janganlah tidur mata para pengecut untuk memperhatikan hal ini baik-baikโ€ Siyaru Aโ€™lรขmin Nubalaโ€™, 1/382, Maktabah Syรขmilah Maโ€™รขsyiral muslimรฎn rahรฎmakumullรขh Namun tidak jarang seseorang menganggap bahwa ada selain Allah yang bisa memperlambat kematian, mengggap bahwa usaha dan harta yang dimilikinya itulah yang menjamin kehidupannya. Allah menyinggung mereka dengan menyatakan ูˆูŽูŠู’ู„ูŒ ู„ููƒูู„ู‘ู ู‡ูู…ูŽุฒูŽุฉู ู„ูู…ูŽุฒูŽุฉู โ€“ ุงู„ู‘ูŽุฐููŠ ุฌูŽู…ูŽุนูŽ ู…ูŽุงู„ู‹ุง ูˆูŽุนูŽุฏู‘ูŽุฏูŽู‡ู โ€“ ูŠูŽุญู’ุณูŽุจู ุฃูŽู†ู‘ูŽ ู…ูŽุงู„ูŽู‡ู ุฃูŽุฎู’ู„ูŽุฏูŽู‡ู Kecelakaanlah bagi setiap pengumpat lagi pencela, yang mengumpulkan harta dan menghitung-hitungnya[1], dia mengira bahwa hartanya itu dapat mengekalkannya, QS. Al Humazah 1 โ€“ 3 Ketika harta sudah dianggap mampu menjamin berlangsungnya kehidupan, ketika dalam dada sudah menancap ketakutan akan kematian, maka tidak mengherankan jika akhirnya perjuangan ditinggalkan karena dianggap menghambat penghasilan, kebenaran diabaikan karena dianggap bisa mengancam keselamatan, penerapan syariโ€™ah dan penegakan khilafah tidak diprioritaskan karena dianggap mendatangkan ancaman dan kecaman, akibatnya penjajahpun bebas melenggang menguras kekayaan, mendangkalkan akidah dan keyakinan, merusak tatanan pergaulan, menginjak-injak syariโ€™ah Islam, dan semua itu bisa terjadi tanpa perlawanan yang berarti dari umat Islam. Rasulullah SAW bersabda ูŠููˆุดููƒู ุงู„ู’ุฃูู…ูŽู…ู ุฃูŽู†ู’ ุชูŽุฏูŽุงุนูŽู‰ ุนูŽู„ูŽูŠู’ูƒูู…ู’ ูƒูŽู…ูŽุง ุชูŽุฏูŽุงุนูŽู‰ ุงู„ู’ุฃูŽูƒูŽู„ูŽุฉู ุฅูู„ูŽู‰ ู‚ูŽุตู’ุนูŽุชูู‡ูŽุง ุŒ ููŽู‚ูŽุงู„ูŽ ู‚ูŽุงุฆูู„ูŒ ูˆูŽู…ูู†ู’ ู‚ูู„ู‘ูŽุฉู ู†ูŽุญู’ู†ู ูŠูŽูˆู’ู…ูŽุฆูุฐูุŸ ู‚ูŽุงู„ูŽ ุจูŽู„ู’ ุฃูŽู†ู’ุชูู…ู’ ูŠูŽูˆู’ู…ูŽุฆูุฐู ูƒูŽุซููŠุฑูŒุŒ ูˆูŽู„ูŽูƒูู†ู‘ูŽูƒูู…ู’ ุบูุซูŽุงุกูŒ ูƒูŽุบูุซูŽุงุกู ุงู„ุณู‘ูŽูŠู’ู„ูุŒ ูˆูŽู„ูŽูŠูŽู†ู’ุฒูŽุนูŽู†ู‘ูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ู…ูู†ู’ ุตูุฏููˆุฑู ุนูŽุฏููˆู‘ููƒูู…ู ุงู„ู’ู…ูŽู‡ูŽุงุจูŽุฉูŽ ู…ูู†ู’ูƒูู…ู’ุŒ ูˆูŽู„ูŽูŠูŽู‚ู’ุฐูููŽู†ู‘ูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ูููŠ ู‚ูู„ููˆุจููƒูู…ู ุงู„ู’ูˆูŽู‡ู’ู†ูŽ ุŒ ููŽู‚ูŽุงู„ูŽ ู‚ูŽุงุฆูู„ูŒ ูŠูŽุง ุฑูŽุณููˆู„ูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ูุŒ ูˆูŽู…ูŽุง ุงู„ู’ูˆูŽู‡ู’ู†ูุŸ ู‚ูŽุงู„ูŽ ุญูุจู‘ู ุงู„ุฏู‘ูู†ู’ูŠูŽุงุŒ ูˆูŽูƒูŽุฑูŽุงู‡ููŠูŽุฉู ุงู„ู’ู…ูŽูˆู’ุชู โ€œHampir-hampir bangsa-bangsa memperebutkan kalian umat Islam, layaknya memperebutkan makanan yang berada di mangkuk besar.โ€ Seorang laki-laki berkata, โ€œApakah kami waktu itu berjumlah sedikit?โ€ beliau menjawab โ€œBahkan jumlah kalian pada waktu itu sangat banyak, namun kalian seperti buih di genangan air. Sungguh Allah akan mencabut rasa takut kepada kalian dari hati musuh kalian, dan akan menanamkan ke dalam hati kalian Al wahn.โ€ Seseorang lalu berkata, โ€œWahai Rasulullah, apa itu Al wahn?โ€ beliau menjawab โ€œCinta dunia dan takut mati.โ€. HR. Abu Dawud dari Tsauban dg sanad shahih Maโ€™รขsyiral muslimรฎn rahรฎmakumullรขh Sungguh, kalau direnungkan betul-betul, keyakinan akan datangnya kematian hanya dari Allah, akan mampu mengerem seseorang dari tindak maksiyat, sekaligus mendorong seseorang untuk senantiasa berbuat taโ€™at, menjadikannya berani menghadapi rintangan apapun sekaligus takut melanggar ketentuan syariโ€™at Allah SWT. Tidak mengherankan jika dalam Tafsir Rรปhul Bayรขn 3/330, disebutkan bahwa Umar menulis di cincinnya ูƒูู‰ ุจุงู„ู…ูˆุช ูˆุงุนุธุง ูŠุง ุนู…ุฑ Cukuplah kematian itu menjadi penasihat wahai Umar Semoga Allah SWT menjadikan kita orang-orang yang dapat memanfaatkan sisa hidup kita, umur kita, masa muda kita, sehat kita dengan sebaik-baiknya, sebelumnya semua lenyap dan berakhir. Semoga Allah meneguhkan langkah kita menapaki jalan kebenaran seterjal apapun jalan itu, dengan penuh keyakinan bahwa tidak ada yang mampu memudharatkan kita kecuali atas izin Allah โ€™azza wa jalla. ูˆูŽุฅูุฐูŽุง ู‚ูุฑูุฆูŽ ุงู„ู’ู‚ูุฑู’ุขู†ู ููŽุงุณู’ุชูŽู…ูุนููˆุง ู„ูŽู‡ู ูˆูŽุฃูŽู†ู’ุตูุชููˆุง ู„ูŽุนูŽู„ู‘ูŽูƒูู…ู’ ุชูุฑู’ุญูŽู…ููˆู†ูŽ โ€“ ุงุนูˆุฐ ุจุงู„ู„ู‡ ู…ู† ุงู„ุดูŠุทุงู† ุงู„ุฑุฌูŠู… โ€“ูŠูŽุง ุฃูŽูŠู‘ูู‡ูŽุง ุงู„ู‘ูŽุฐููŠู†ูŽ ุขู…ูŽู†ููˆุงู’ ุงุฏู’ุฎูู„ููˆุงู’ ูููŠ ุงู„ุณู‘ูู„ู’ู…ู ูƒูŽุขูู‘ูŽุฉู‹ ูˆูŽู„ุงูŽ ุชูŽุชู‘ูŽุจูุนููˆุงู’ ุฎูุทููˆูŽุงุชู ุงู„ุดู‘ูŽูŠู’ุทูŽุงู†ู ุฅูู†ู‘ูŽู‡ู ู„ูŽูƒูู…ู’ ุนูŽุฏููˆู‘ูŒ ู…ู‘ูุจููŠู†ูŒ ุจูŽุงุฑูŽูƒูŽ ุงู„ู„ู‡ู ู„ููŠ ูˆูŽู„ูŽูƒูู…ู’ ูููŠ ุงู„ู’ู‚ูุฑู’ุงูŽู†ู ุงู„ู’ุนูŽุธููŠู…ุŒ ูˆูŽู†ูŽููŽุนูŽู†ููŠ ูˆูŽุงููŠู‘ูŽุงูƒูู…ู’ ุจูู…ูŽุง ูููŠู’ู‡ู ู…ูู†ูŽ ุงู„ุงูŽูŠูŽุงุชู ูˆูŽ ุงู„ุฐู‘ููƒู’ุฑู ุงู„ุญู’ูƒููŠู’ู… ุงูŽู‚ููˆู’ู„ู ู‚ูŽูˆู’ู„ููŠ ู‡ูŽุฐูŽุง ูˆูŽุงูŽุณู’ุชูŽุบู’ููุฑูุงู„ู„ู‡ูŽ ุงู„ู’ุนูŽุธููŠู…ู’ โ€“ ู„ููŠ ูˆูŽู„ูŽูƒูู…ู’ ูˆูŽู„ูุณูŽุงุฆูุฑู ุงู„ู’ู…ูุณู’ู„ูู…ููŠู†ูŽ ููŽุงุณู’ุชูŽุบู’ููุฑููˆู‡ู ุงูู†ู‘ูŽู‡ู ู‡ููˆูŽุงู„ู’ุบูŽูููˆู’ุฑู ุงู„ุฑู‘ูŽุญููŠู…ู [1] karenanya dia menjadi kikir dan tidak mau menafkahkannya di jalan Allah * pernah saya sampaikan di Masjid Qardhan Hasana Bjb, namun tidak persis seperti yang ini Baca Juga JURNAL PALOPO - Kematian adalah sesuatu yang misterius yang tidak diketahui kapan datangnya. Bisa saja hari ini, besok atau hari yang akan datang. Meski misterius, namun setiap orang meyakini bahwa hari itu akan datang. Oleh karena itu, ada baiknya seseorang menyiapkan diri dengan bekal yang banyak. Tetapi sayangnya, manusia sering lupa dan tidak mengingat sesuatu yang pasti ini. Banyak yang sering terlena dengan gemerlap dunia yang singkat. Jika itu terjadi Anda perlu paham hakikat kematian dalam Al-Qur'an dan Hadist. Baca Juga Trik Membersihkan Minyak dan Kerak Mengendap di Wajan dengan Bahan Rumahan Bahkan hidup tak lagi dilandasi oleh niat ibadah, tetapi hanya untuk mengejar perhiasan duniawi yang semuanya serba semu. Allah mengingatkan dalam surah Al-Anbiya ayat 35, bahwa โ€œSetiap yang berjiwa pasti akan merasakan mati dan Kami menguji kalian dengan kejelekan dan kebaikan sebagai satu fitnah ujian dan hanya kepada Kami-lah kalian akan dikembalikan.โ€ Dalam surah An-nisa ayat 78 juga disebutkan, โ€œDi mana saja kalian berada, kematian pasti akan mendapati kalian, walaupun kalian berada di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh.โ€ Baca Juga Sinopsis Ikatan Cinta, 6 Mei 2021, Aldebaran Masih Tidak Percaya Reina Adalah Anak Nino Oleh karena itu, ketika seseorang membicarakan perihal kematian, maka ia sedang mengingatkan dan memberi peringatan bahwa kelak setiap manusia akan kembali ke hadirat-Nya.

hakikat kematian menurut imam al ghazali